## WELCOME TO BALAI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN AGAMA JAKARTA OFFICIAL WEBSITE.
  • modules/mod_lv_enhanced_image_slider/images/demo/1.jpg
  • modules/mod_lv_enhanced_image_slider/images/demo/2.jpg
  • modules/mod_lv_enhanced_image_slider/images/demo/3.jpg
  • modules/mod_lv_enhanced_image_slider/images/demo/4.jpg
  • modules/mod_lv_enhanced_image_slider/images/demo/5.jpg
  • modules/mod_lv_enhanced_image_slider/images/demo/6.jpg

Seminar Hasil Penelitian survei kebutuhan pendidikan keagamaan Non-Formal dan Informal pada masyarakat

Lembaga-lembaga pendidikan Islam nonformal sangat luas menjangkau warga. Sekitar 89,9% warga melaporkan adanya majelis taklim di lingkungan tempat tinggalnya. Sementara itu, sekitar 72,6% warga menyebut adanya madrasah diniyah di desa/kelurahan tempat tinggalnya, dan sekitar 70% warga menyebut keberadaan lembaga pendidikan al-Qur’an di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka. Demikian antara lain temuan survei “Kebutuhan Pendidikan Keagamaan Islam Formal dan Informal” yang dipresentasikan di Bogor, 22-23 Juni 2016.

 

Survei ini diadakan oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta bekerja sama dengan Lembaga Survei Indonesia (LSI). Survei dilaksanakan terhadap warga Muslim di wilayah Indonesia bagian barat, meliputi 10 provinsi di pulau Sumatera, serta provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Berdasarkan Sensus Penduduk 2010, total populasi Muslim di wilayah tersebut berjumlah 104.142.044 jiwa.

 

Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka, yang dilaksanakan pada April 2016. Jumlah sampel survei ini sebanyak1.020 responden, yang dipilih dengan menggunakan metode penarikan sampel acak berjenjang (multistage random sampling). Pada tingkat kepercayaan 95%, survei ini memiliki batas kesalahan (margin of error) sekitar ± 3,2%.

 

Di antara temuan penting lainnya dari survei ini adalah profil peserta majelis taklim agak berbeda dari opini umum yang cenderung beranggapan bahwa majelis taklim lebih banyak didominasi perempuan, warga dari kalangan dengan tingkat ekonomi rendah, serta wilayah pedesaan. Survei ini menemukan tingkat partisipasi dalam majelis taklim cenderung hampir berimbang dari segi jenis kelamin: 62,2% dari 50,7% responden pria dan 64% dari 49,3% responden wanita.

 

Selain itu, survei ini menemukan peserta majelis taklim cenderung merata dari segi kelompok pendapatan: 69,9% dari 11,3% responden berpendapatan lebih dari 4 juta per bulan (kelas atas), 62,6% dari 26,5% responden berpendapatan 2-4 juta per bulan (kelas menengah atas), 60,4% dari 35,8% responden berpendapata 1-2 juta per bulan (kelas menengah bawah), serta 63,1% dari 26,4% responden berpendatan kurang dari 1 juta per bulan (kelas bawah). Survei ini juga menemukan tingkat partisipasi warga Muslim di wilayah perkotaan lebih tinggi dari warga Muslim di wilayah pedesaan: 65,5% dari 56,4% responden perkotaan berbanding 60% dari 43,6% responden pedesaan.

 

Secara keseluruhan tingkat partisipasi warga Muslim dalam majelis taklim mencapai 63,1%, dan mayoritas mengikuti majelis taklim sebanyak sekali dalam seminggu. (RHA)

 

Link Terkait :

http://googleweblight.com/?lite_url=http://nasional.kompas.com/read/2016/06/24/08282141/survei.terlupakan.majlis.taklim.masih.dibutuhkan.masyarakat&ei=69ssODws&lc=id-ID&s=1&m=568&host=www.google.co.id&ts=1467205790&sig=AKOVD65rqWF3yd6KOZ9PFXDYnNOX9ON1LQ

 

http://www.mediaindonesia.com/news/read/52776/majelis-taklim-redam-radikalisme/2016-06-24

scroll back to top

Terakhir Diperbaharui (Kamis, 30 Juni 2016 15:33)

 

Seminar Hasil Penelitian Nilai-Nilai Keagamaan dan Kerukunan dalam Tradisi Lisan Nusantara

Indonesia memiliki kekayaan tradisi lisan yang muncul dari berbagai suku bangsa di Indonesia. Hampir dalam semua aspek kehidupan suku-bangsa Indonesia memunculkan tradisi lisan ini, bahkan ia banyak terkait dengan ritual adat dan keagamaan masyarakat setempat. Melalui tradisi lisan, masyarakat biasanya mewariskan nilai-nilai utama yang menjadi rujukan dalam kehidupan mereka.

Dalam konteks pembangunan agama oleh Kementerian Agama, tradisi lisan yang berkembang di masyarakat dapat menjadi media dan mekanisme sosial-budaya untuk penyampaian nilai-nilai keagamaan dan mempererat kerukunan. Dengan memahami tradisi lisan sebagai salah satu bentuk ungkapan kebudayaan Indonesia, dapat diketahui pula bagaimana nilai-nilai agama meresap dalam kebudayaan dan bagaimana agama diterima oleh kebudayaan setempat?

Untuk itulah, Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta melakukan penelitian tentang nilai-nilai keagamaan dan kerukunan dalam tradisi lisan Nusantara. Pada tahun 2016 ini, ada 8 (delapan) wilayah yang dijadikan sasaran penelitian, yakni Jakarta, Banten, Bandung, Cirebon, Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Barat dan Kepulauan Riau. Masing-masing peneliti menggali nilai-nilai keagamaan dan kerukunan yang tersirat dalam tradisi lisan yang penting bagi masyarakat setempat dan peneliti.

Nilai keagamaan dan kerukunan digali dalam sejumlah tradisi di berbagai daerah, yakni tradisi ritual akekeh di Jakarta, tradisi panjang mulud di Banten, Petatah-Petitih Sunan Gunung Jati di Cirebon, tradisi warahan di Lampung, tradisi tadud di Sumatera Selatan, tradisi teater rakyat Mendu di Natuna Kepulauan Riau, dan tradisi pasambahan di Sumatera Barat.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi data yang menunjukkan bahwa suku-suku bangsa di Indonesia adalah masyarakat yang agamis sekaligus juga dapat menjaga kerukunan. Hasil penelitian ini juga dapat menjadi data yang menunjukkan kekhasan masyarakat Indonesia dalam beragama yang selalu terkait dengan kebudayaannya. Dengan data-data ini pula, diharapkan upaya revitalisasi tradisi-tradisi tersebut melalui dinas-dinas terkait di daerah dan Kementerian Agama, melalui bidang seni-budaya agama, baik di pusat maupun daerah. Melalui upaya revitalisasi tradisi-tradisi tersebut diharapkan pesan-pesan keagamaan dan kerukunan dapat lebih mudah disampaikan dan diterima masyarakat pendukungnya.

Hasil penelitian ini telah dipresentasikan dalam  Seminar Hasil Penelitian pada 25-26 April 2016. Seminar Hasil Penelitian ditujukan untuk mendiskusi draft awal laporan penelitian. Seminar tersebut mengundang narasumber, yakni Dr. Pudentia dan Dr. Talha Bachmid (keduanya adalah peneliti senior di Asosiasi Tradisi Lisan/ATL), serta Dr. Wawan Gunawan (Kasubid Promosi Wisata Sejarah dan Religi) Kementerian Pariwisata, serta Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, Abdurrahman Mas’ud.

Acara dihadiri oleh para peserta dari berbagai unsur lembaga, perguruan tinggi, lembaga penelitian dan organisasi-organisasi atau asosiasi kesenian tradisi. Turut juga hadir perwakilan dari Kanwil Kementerian Agama di daerah di mana penelitian ini dilakukan.

Pudentia dalam kesempatan ini mengatakan bahwa sudah banyak sarjana-sarjana Barat atau Indonesianis yang melakukan kajian terhadap tradisi lisan di Indonesia, tetapi lebih banyak lagi tradisi lisan yang masih menunggu untuk diteliti, oleh karena itu, hasil penelitian ini diharapkan menjadi awal bagi maraknya kajian-kajian tradisi lisan di kalangan sarjana Indonesia.

Wawan Gunawan, Kasubid Promosi Wisata Sejarah dan Religi Kemenpar, mengatakan bahwa hasil-hasil kajian seperti ini sangat penting sebagai dasar untuk promosi wisata religi selanjutnya. Sebab, tidak akan ada promosi obyek wisata religi jika tidak ada data yang mendukung untuk itu. Oleh karena itu, ke depan, memang perlu duduk bersama antara Kementerian Agama, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Pariwisata.

scroll back to top
 

Seminar Hasil Penelitian Pengembangan Tipologi Madrasah Aliyah di Indonesia Bagian Barat

Model Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia lahir dari keinginan untuk menjembatani dunia pesantren dengan dunia ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa diduga telah menjadi lembaga pendidikan menengah atas yang unggul dan difavoritkan. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Abdul Malik (Konsultan Pendidikan ACDP) dalam Seminar Hasil Penelitian Balai Litbang Agama Jakarta.

Pada tahun pelajaran 2015-2016 Kementerian Agama RI melalui Diroktorat Pendidikan Madrasah, Direktorat Jendral Pendidikan Islam telah mengembangkan 6 MAN Insan Cendekia di berbagai daerah sebagai model pendidikan madrasah nasional yang unggul, berwawasan keislaman rahmatan lil ‘alamin, dan berkarakter pancasila. Keenam madrasah tersebut antara lain : 1)MAN IC Aceh Timur; 2) MAN IC Siak 3) MAN IC Ogan Komiring Ilir; 4) MAN IC Bangka Tengah; 5) MAN IC Pekalongan; dan 6) MAN IC Paser. Kemudian pada tahun ini Kementerian Agama berencana membangun kembali 8 MAN Insan Cendikia diberbagai daerah yang meliputi: 1) MAN IC Padang; 2) MAN IC Bengkulu; 3) MAN IC Batam; 4) MAN IC Tanah Laut 5) MAN IC Sambas 6) MAN IC Kendari; 7) MAN IC Palu; dan 8) MAN IC Sorong.

Guna mendukung program revitalitasi dan pengembangan Madrasah Insan Cendekia ke berbagai daerah, maka Balai Litbang Agama Jakarta pada tahun 2016 memandang perlu untuk melakukan sebuah kajian yang mendalam terkait bagaimana model MAN Insan Cendekia yang lebih baik, dan dapat dirumuskan sebagai model yang aplikatif agar bisa direplikasi di tempat lain serta mampu mendorong munculnya keunggulan lokal yang khas. Permasalahan ini diteliti dengan tujuan untuk mengembangkan model MAN Insan Cendekia yang dapat direplikasi di berbagai daerah yang menjadi sasaran program pendidikan Kementrian Agama RI.

Rangkaian panjang kegiatan penelitian dipungkas dengan seminar hasil penelitian. Seminar ini dihadiri peserta dari berbagai kalangan akademisi dan birokrasi. Sebagai nara sumber dalam kegiatan tersebut antara lain : Dr. Hamdar Arraiyah, M.Ag (Kapuslitbang Penda), Prof. Dr. Husni Rahim (UIN Jakarta),  Bahrul Hayat, Ph.D. (UI/MJ), Dr. Abdul Malik (Konsultan Pendidikan ACDP) dan Dr. Syafiuddin, MA (Kasubdit Kelembagaan).

Hasil diskusi dan pembahasan merekomendasikan : 1)Semangat awal pendirian MAN Insan Cendekia Serpong dimaksudkan untuk memprioritaskan para santri agar menguasai sains dan teknologi, maka sistem penerimaan hendaknya tetap diprioritaskan anak didik dari Madrasah Tsanawiyah dan Pesantren, misalnya melalui kuota, yang besarannya disesuaikan proporsi demografis santri/MTs di daerah yang bersangkutan, dengan tetap menggunakan seleksi yang ketat; 2) Salah satu tujuan MAN Insan Cendekia serpong  adalah mencetak para santri ahli dalam bidang sains dan teknologi, maka perlu ditegaskan kembali visi-misi tersebut; dalam bentuk desain akademik yang riil perlu ditinjau kembali program tahfiz al-Qur’an sementara untuk program pembelajaran dan penilaian sains harus ditingkatkan; 3) MAN Insan Cendekia di masa yang akan datang selalu dituntut profesionalisme dan tuntutan jaman, maka diperlukan badan otonomi khusus, (semacam Gugus Tugas) di tingkat Pusat yang tugas utamanya melakukan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi seluruh program yang berkaitan dengan MAN IC seluruh Indonesia.

scroll back to top

Terakhir Diperbaharui (Selasa, 24 May 2016 09:01)

 
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Histats.com
Kami punya 3 tamu online
Video Flash

Get the Flash Player to see this player.