Teliti Tradisi Keagamaan dalam Manuskrip di Betawi, BLAJ Diapresiasi
  • 6 Maret 2020
  • 562x Dilihat
  • Berita

Teliti Tradisi Keagamaan dalam Manuskrip di Betawi, BLAJ Diapresiasi

BLAJ - Penelitian Tradisi Keagamaan dalam Manuskrip yang diinisiasi Balai Litbang Agama Jakarta (BLAJ) diapresiasi banyak pihak. Salah satunya Kepala Sub Bagian Tata Usaha (Kasubag TU) Kantor Kemenag Kota Jakarta Pusat, H Syafruddin, saat menerima delegasi BLAJ di kantornya Jl KH Mas Mansyur No 128 Tanah Abang, Jakarta Pusat,

Menurutnya, penelitian tersebut sangat bermanfaat bagi masyarakat, khususnya warga Betawi. “Penelitian tentang Syekh Samman ini bagi kami sangat baru. Selama saya berkantor di sini, penelitian dari BLA Jakarta sebatas kehidupan keagamaan seperti isu kerukunan,” ujarnya kepada peneliti.

Selaku pejabat setempat, pihaknya sangat mengapresiasi penelitian tentang tradisi keagamaan dalam manuskrip. “Kami berbahagia ada penelitian semacam ini. Kami menunggu hasilnya,” tandasnya.

Oleh Kasubag TU Kemenag Jakpus, peneliti diarahkan untuk menemui H Syarifuddin, seorang penyuluh senior di Kantor Urusan Agama Kecamatan Gambir dan Ahmad Dumyati, Kepala KUA tersebut. “Ini sudah saya hubungkan dengan Pak Syarif. Beliau penghulu senior dan asli penduduk setempat. Silakan kontak dan janjian dengan beliau,” kata Syafruddin.

Keesokan harinya, H Syarifuddin mengantar delegasi BLAJ ke sejumlah masjid di kawasan Pacenongan yang disinyalir memiliki rekam jejak tentang pembacaan manakib atau ratib Syekh Samman.

Penjajakan sengaja dilakukan di daerah yang memiliki keterkaitan secara geografis di mana penulisan naskah atau manuskrip tersebut dilakukan. Yakni, gang Langgar Tinggi. Nama itulah yang tertulis dalam naskah bersejarah tersebut.

Pertama kali yang dikunjungi adalah Masjid Jami’ Batu Ceper yang beralamat di Jl. Batu Ceper 2 No. 4 RT. 10/01 Kelurahan Kebon Kelapa, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat. Di masjid ini, kami diterima Ustadz Ujang Kusnadi, sang Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM).

Ust Ujang Kusnadi mengatakan, pada saat dirinya remaja sering diajak orang tuanya mengikuti pembacaan manakib Syaikh Samman. Pembacaan tersebut dilaksanakan bergiliran di rumah-rumah penduduk pada malam hari.“Biasanya pembacaan tersebut dilakukan menjelang usia tiga bulan bayi dalam kandungan. Ini diniatkan untuk mengharap berkah Syaikh Samman bagi kebaikan si jabang bayi,” kenangnya.

Selain itu, lanjut dia, pembacaan ratib Samman juga dilakukan pada saat ada hajatan baik sunatan, pernikahan, dan beberapa kegiatan keagamaan lainnya. Pembacaan tersebut biasanya diselang-seling dengan pembacaan Sithudduror dan Maulid Nabi. Selaku Ketua DKM dan tokoh masyarakat, Ujang berharap tradisi tersebut bisa diperkenalkan kembali di kalangan masyarakat Betawi.

Di masjid lainnya, yakni Al-Istiqomah yang beralamat di Jl. Kingkit IV No. 7 RT 008/04 Kelurahan Kebon Kelapa, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat, juga terdapat warga, khususnya berusia 60-an sedikit mengenal tradisi pembacaan Syaikh Samman.

Beberapa jamaah terdiri dari bapak-bapak usia lanjut sangat tertarik untuk kembali membaca manaqib Syaikh Samman yang ditulis ulang oleh Muhammad Baqir tersebut. Sebab, di gang Langgar Tinggi itulah naskah tersebut ditemukan dan menjadi benda bersejarah.

Meski demikian, mereka tidak menyadari jika masjid tersebut memiliki korelasi dengan nama Gang Langgar Tinggi yang disebut dalam manuskrip karya Muhammad Baqir. Setelah H Subur Sugiarto, sang Ketua DKM, mencoba mengingat-ingat ternyata Langgar Tinggi merupakan cikal bakal berdirinya Masjid Al-Istiqomah.

 

Empat Kota

Sebagaimana diketahui, manakib (biografi) Syekh Samman menjadi salah satu tema penelitian di bidang lektur dan khazanah keagamaan. Setidaknya ada empat titik di Indonesia bagian barat. Menurut koordinator penelitian Zulkarnain Yani, lokasi penelitian tersebut meliputi Padang Sumbar, Pandeglang, Banten, dan Cirebon Jawa Barat.

Dalam penelitian penjajakan selama sepekan, Senin-Jumat, 12-16 Februari 2020, ditemukan beberapa fakta. Antara lain, setelah ditelusuri secara mendalam bahwa nama Pacenongan itu bukan merupakan nama sebuah kelurahan atau kecamatan. Pacenongan merupakan nama jalan besar.

Kawasan Pacenongan ini berpusat di Jalan Pacenongan. Lokasinya tak  jauhdari Monas. Dengan memperhatikan namanya, kawasan ini dapat dibilang sebagai kawasan tertua di Indonesia. Sudah tentu, arti Pacenongan sendiri sebagai kawasan ramai tempo dulu menarik ditelisik lebih mendalam.

Jika ditelisik secara mendalam, Manaqib Syeikh Samman masih sering dibaca di beberapa tempat, misalnya di Masjid Al-Arif Mega Kuningan di Jakarta Selatan, tempat makamnya Guru Mughni. Di tempat lain misalnya di Palembang dan di Pattani Thailand Selatan juga dibaca. Meski demikian, di Masjid Al-Arif ini memang belum terkonfirmasi secara meyakinkan, apakah betul masih ada pembacaan manaqib Syaikh Samman atau tidak. Pengurus DKM setempat belum bisa dikonfirmasi (teks.foto: Musthofa Asrori)