Wisata Kehidupan: Antara Nietzsche dan Ibnu Atha’illah
  • BLA Jakarta
  • 20 Februari 2026
  • 6x Dilihat
  • Opini

Wisata Kehidupan: Antara Nietzsche dan Ibnu Atha’illah

Di berbagai tulisannya, Nietzsche, filosof eksistensialis Jerman, menggelorakan keberanian untuk hidup sendiri dan otentik dalam melawan absurd-nya kehidupan. Membaca Nietzsche serasa abu kemanusiaan kita ditempa menjadi tembaga; tubuh kita diubah menjadi rajawali yang berani melintasi angkasa seorang diri. 

Tapi Nietzsche jualah yang mendengungkan kembali suara Silenus dari Yunani Kuno bahwa yang terbaik bagi manusia adalah tidak pernah dilahirkan ke dunia. Jika terlanjur lahir sebagai manusia, lebih baik mati secepatnya.  

Kali ini, lupakan dulu Nietzsche dan Silenus! Mari kita mendengar suara Ibnu Atha’illah As-Sakandari dalam kitab al-Hikam. Al-Hikam adalah salah satu kitab tasawuf top. Mungkin sebagian kalian langsung merasa ill feel begitu diajak untuk beralih dari Nietzsche ke As-Sakandary. “Apa-apaan ini, masak orang diminta berhenti belajar filsafat untuk mengaji kita agama. Jangan-jangan tulisan ini hendak melarang mengkaji filsafat seperti kelakuan beberapa agamawan yang mengharam-haramkan filsafat karena kuatir kebenaran agamanya dipermalukan oleh kritisisme filsafat?” 

Bukan! Tulisan ini sama sekali tidak mengharamkan filsafat. Juga bukan melarang kalian menbaca buku-buku Nietszche. Tulisan ini hanya ingin melihat alternatif lain dalam memandang hidup. Setelah itu mau kembali baca tulisan-tulisan Nietzsche juga boleh. Saya juga pembaca dan pengagum Nietzsche. Bahkan, saking kagumnya, hingga pertama kali belajar filsafat eksistensisalisme Nizsche sampai gak bisa tidur berhari-hari karena sangat merisaukan sekaligus mengasyikan. 

Menurut As-Sakandari, terlahir ke dunia dan menjalani hidup ini adalah kenikmatan tertinggi. Dalam al-Hikam dinyatakan:  أَنْعَمَ عَلَيْكَ أَوَّلاً بِا لْإِيْجَادِ وَثَانِيًا بِتَوَالِي اْلإِمْدَادِ (Nikmat Allah pertama kepadamu adalah wujudmu, kedua adalah memenuhi kebutuhan hidupmu). 

Coba perhatikan dua cara pandang tentang hidup yang sangat berbeda. Jika bagi Nietzsche (atau Silenus), nikmat terbaik adalah tak pernah dilahirkan, bagi As-Sakandari, nikmat pertama justru adalah ketika kita diwujudkan atau terlahir sebagai manusia. Jika bagi Niezsche, nikmat kedua adalah mati cepat, sebaliknya bagi As-Sakandai, nikmat kedua adalah melanjutkan kehidupan ini. 

Apa yang membedakan dua pandangan ini? Kuncinya ada pada cara pandang terhadap hidup. Bagi Nietzsche, kehidupan adalah kesengsaraan. Hidup adalah perjuangan untuk menemukan makna dalam kesengsaraan itu. Jika hidup sepenuhnya adalah kesengsaraan, ya untuk apa hidup? Memang, lebih baik tidak pernah dilahirkan. Jika lahir, lebih baik segera mati. Pilihan itu logis karena untuk apa berpayah-payah berjuang memaknai kesengsaraan, jika pada akhirnya hanya kesengsaraan itulah fakta tertinggi kehidupan. 

Sebaliknya, bagi As-Sakandari, hidup adalah perjalanan menuju kesempurnaan paling sempurna, yang bahkan tak bisa dirangkum dalam kata-kata. Jika itulah tujuan kehidupan, maka terlahir ke dunia adalah sebuah kesempatan yang layak disyukuri. Terlahir ke dunia adalah kenikmatan pertama, apa pun yang mungkin akan terjadi pada langkah berikutnya. 

Bayangkan seperti ini: Ada panitia yang menyiapkan sebuah journey game, di mana siapa yang berhasil mencapai garis finish, dia akan mendapatkan hadiah yang diimpikan semua orang yang berakal sehat (bukan orang gila, bukan anak kecil yang belum berpikir, bukan orang tua pikun). Siapa saja memiliki kesempatan untuk menjadi peserta game tersebut. Panitia memasukkan semua nama, kemudian mengambil beberapa nama secara acak. Jika namamu terpilih, bagaimana perasaanmu? Kamu menganggap keterpilihanmu sebagai kutukan, ataukah sebagai nikmat yang perlu disyukuri? 

Tentu saja, karena hadiahnya yang luar biasa, maka journey game itu dirancang memiliki berbagai rintangan. Namun, siapa pun yang terpilih menjadi peserta, dia diberi perlengkapan yang cukup dan ditunjukkan dengan sangat jelas cara menghindari jebakan. Lebih dari itu, panita bahkan memberi peta jalan serta rumus dan kunci membuka kotak hadiah. Satu-satunya yang akan membuat peserta tidak berhasil adalah pertahanan diri dalam menghadapi cobaan dan godaan selama perjalanan. Itu saja! 

Masih belum cukup sampai di situ, panitia juga berjanji bahwa setiap peserta hanya akan mendapatkan hasil jerih payahnya. Panitia tidak akan menzalimi seorang peserta pun. Kesialan yang didapat peserta pada dasarnya adalah kezaliman diri mereka sendiri. Tapi siapapun yang berhasil mencapai garis finish, akan mendapatkan reward yang tak ternilai harganya.  

Sampai di sini, terbuka jalan bagi kita: mau mengikuti Nietzsche atau As-Sakandari. Jika cara pandang As-Sakandari dianggap sebagai narasi yang diada-adakan oleh agamawan tentang mitos akhirat, surga, neraka, kalian juga tidak memiliki bukti empiris untuk membenarkan Nietzsche. Namun, jika kalian ingin mengikuti cara Nietzsche dalam memandang hidup, ya silakan saja. Lanjutkan!