Google Form Sebagai Alternatif Pembelajaran Jarak Jauh Dimasa Pandemi Covid 19
  • 21 Mei 2020
  • 12305x Dilihat
  • Opini

Google Form Sebagai Alternatif Pembelajaran Jarak Jauh Dimasa Pandemi Covid 19

Seperti yang kita ketahui penyebaran virus Corona di Indonesia hingga saat ini  belum ada tanda-tanda penurunan. Jumlah yang terinfeksi masih tinggi dibanding negara lain. Melihat kondisi pandemi Covid-19 yang masih mengkhawatirkan, akhirnya pemerintah pusat mengintruksikan  Jakarta harus melakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Tentunya keputusan ini telah melalui berbagai pertimbangan.

PSBB dilakukan agar penyebaran virus corona dapat diredam. Masyarakat, khususnya wilayah Jakarta diwajibkan untuk melakukan Stay at Home atau diam di rumah. Masyarakat dilarang melakukan aktivitas di luar rumah jika tidak ada keperluan yang sangat penting. Mereka juga harus mengikuti protokol kesehatan covid-19, yaitu menjaga jarak, menggunakan masker dan mencuci tangan setelah atau sebelum beraktivitas.

Keadaan ini berdampak pula pada proses pembelajaran di sekolah. Pemerintah mengambil kebijakan melaksanakan kegiatan belajar mengajar di rumah atau lebih dikenal dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Kondisi tersebut membuat perencanaan pembelajaran yang telah dibuat harus didaur ulang. Akan tetapi. semua harus tetap dijalani dan dikerjakan sebagaimana mestinya.

Mungkin tidak banyak orang tahu, bahwa pembelajaran jarak jauh yang dilakukan seperti saat ini memerlukan energi ekstra bagi guru. Tidak hanya harus mengubah metode pembelajaran yang diberikan, namun guru juga harus beradaptasi terhadap berbagai perubahan yang terjadi, seperti perubahan proses penilaian, perubahan cara absen, dan lain sebagainya.

Hal ini diperparah dengan banyaknya komentar negatif  dan tulisan di sosial media bahwa “guru makan gaji buta”. Kalimat ini hanya didasarkan bahwa guru tidak mengajar secara langsung muridnya dan hanya memberikan tugas. Padahal kenyataannya tidak semudah itu. Kalimat ini amat sangat menampar wajah guru terkhusus buat saya secara pribadi. Namun di sinilah sebagai guru kita tertantang agar berkreativitas dan tetap melaksanakan pembelajaran apapun kondisinya. Lalu bagaimana cara guru mengatasinya?

Sebenarnya, penyebaran Covid-19 dan pemberlakuan PSBB seperti saat ini, tidak selamanya membawa dampak negatif. Justru dengan adanya keterbatasan seperti saat ini kita dapat menyadari pentingnya penggunaan teknologi dalam keseharian kita. Saat ini, tidak hanya di lingkungan pendidikan, semua orang di segala bidang sedang berlomba-lomba memanfaatkan perkembangan teknologi untuk mengatasi segala keterbatasan yang ada.

Di sinilah kita akan lebih menyadari bahwa gadget yang mungkin selama ini kita pakai hanya untuk mengakses media sosial, ternyata sudah jauh berkembang dan memiliki kemampuan lebih dari itu. Tidak hanya itu, mungkin para orang tua atau siapapun yang selama ini memiliki stigma negatif terhadap gadget, mungkin saat ini sangat bergantung pada gadget yang dimiliki.

Namun tentunya, kesadaran akan perkembangan teknologi untuk mengahadapi krisis saat ini juga memerlukan proses penyesuaian. Tidak mungkin proses peralihan pembelajaran dari tatap muka menjadi pembelajaran dalam jaringan atau daring seperti sekarang langsung dapat berjalan lancar. Saya sendiri merasakan berbagai penyesuaian yang terjadi pada diri saya, peserta didik, maupun instansi tempat saya mengajar.

Pada awal pandemi ini terjadi dan akhirnya pembelajaran digantikan dengan PJJ, saya dan mungkin kebanyakan guru lainnya merasakan kebingungan mengenai media pembelajaran apa yang tepat digunakan. Hingga pada akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan media sosial whatsapp. Saya mengupload berkas soal yang kemudian akan dijawab oleh para peserta didik yang saya ajar.

Namun, kemudian saya merasakan berbagai kendala dengan metode yang saya gunakan. Kendala paling utama adalah dalam memeriksa tugas peserta didik. Saya harus melihat tugas yang dikirimkan satu persatu dan mencatat nama serta hasil jawabannya. Hal ini memerlukan waktu yang tidak sedikit. Selain itu ada juga siswa yang menuliskannya di buku tulis dan mengirimkannya dalam bentuk gambar.

Hal ini menyebabkan handphone yang saya gunakan menyimpan terlalu banyak data sehingga mengganggu fungsinya. Selain itu kendala lain adalah pada proses absensi siswa. Pada awalnya guru akan menuliskan daftar kehadiran siswa pada tanggal pelaksanaan, kemudian siswa menuliskan namanya satu persatu pada daftar tersebut. Proses ini tentunya memakan sangat banyak waktu dan memungkinkan terjadinya tumpang tindih data yang dituliskan.

Lalu akhirnya dengan berbagai masukkan dari teman-teman sejawat, saya menemukan solusi untuk mempermudah proses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), yaitu dengan menggunakan Google Form. Berikut saya jabarkan cara yang sangat mudah dalam membuat materi dan soal dalam Google Form.

Pertama login ke email milik Gmail, lalu klik aplikasi google, pilih drive. Kemudian lalu klik drive saya. Setelah itu klik lainnya google formulir, formulir kosong, kemudian masuk ke formulir, lalu menu yang ada didesain untuk membuat sebuah formulir, misalnya untuk mengisi data guru, data siswa, dan lain sebagainya. Jika ingin diubah untuk quiz atau soal klik setelan atau setting. Setelah muncul dialog, pilih quiz lalu simpan. Lalu klik plus (+) untuk menambahkan kolom soal. Tersedia beberapa jenis pertanyaan. Jawaban singkat, paragraf (panjang), pilihan ganda, pilihan boleh lebih dari satu, survey, dan lain-lain.

Lalu mulai dari pertanyaan data siswa, NAMA, KELAS, dan lain sebagainya. Untuk “Nama” kita pilih jawaban singkat. Lalu klik + (plus) lagi untuk kolom “KELAS” pilih Drop-down. Kemudian untuk memisahkan bagian, antara bagian I data siswa dengan bagian 2 pertanyaan, klik tambah bagian. Kemudian silahkan lanjutkan dengan langkah yang sama untuk membuat pertanyaan pilihan ganda.

Lalu jangan lupa geser tombol “Wajib Diisi”, kecuali jika pertanyaan itu dianggap tidak penting. Lalu untuk skor dan kunci jawaban, klik option yang jadi kunci dan tentukan bobot poinnya. Kemudian lanjutkan sampai selesai dan buat pula soal tipe uraian. Ada baiknya jika ganti tipe soal ganti pula bagian form-nya menjadi bagian selanjutnya.  Agar tampilan lebih cantik, silahkan klik TEMA (logo yang ada titik empat), anda bisa menambahkan foto sebagai template dan mengubah warna latar serta fontnya.

Jika sudah selesai, anda bisa melihat “Pratinjau” sebelum dipublish, klik gambar seperti mata. Jika sudah dianggap sempurna, anda bisa melihat jawaban yang masuk, klik Respon. Dan untuk melihat data selengkapnya, silahkan klik spreadsheet gambar excel. Tunggu sampai muncul spreadsheet (excel) yang dimaksud. Tahapan akhir dalah mendapatkan link yang akan dibagikan, klik “kirim”, setelah muncul dialog klik gambar link yang ada di tengah. Jika linknya ingin diperpendek klikperpendek link”  lalu kliksalin”.

Silahkan pindahkan link tersebut, misalnya ke Whatshap atau disalin terlebih dahulu di document (word). Jika ingin link-nya terbaca sesuai keinginan kita, kita bisa minta bantuan mesin perubah link seperti gg.gg, caranya buka tab baru di browser lalu url ketik gg,gg. Simpan link URL yang ingin diubah klik customize lalu tulis di kota, kata/kalimat yang diinginkan tanpa spasi klik shorten URL tunggu sampai disetujui jika link sudah ada yang pakai maka silahkan ubah sedikit. Demilian langkah-langkah membuat Google Form. Selamat mencoba.

Kelebihan menggunakan Google Form kita bisa memasukkan materi berbentuk video pembelajaran dan soal. Kemudian kita juga bisa melihat nilai siswa dengan cepat sehingga kita bisa melaksanakan tindak lanjut dengan berupa remedial dan pengayaan dengan cepat. Untuk daftar hadir juga demikian kita bisa memantaunya setiap hari. Data kehadiran siswa bisa terpantau kita tidak perlu lagi manjat ke atas untuk melihat kehadiran siswa.

Google Form dapat dijadikan alternatif Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) pada masa pandemic virus corona yang mengharuskan semua aktivitas dikerjakan di rumah. Beberapa saran yang dapat dilakukan untuk pemangku kepentingan seperti: perlunya pelatihan menyeluruh untuk semua guru di madrasah tentang Google Form. Selain itu juga perlu adanya inovasi pembelajaran yang beragam agar warna pembelajaran lebih menarik. (foto: www.flickr.com)

Oleh: Dra. Sri Hartati, Pendidik MTsN 5  Jakarta.