Strategi Pengembangan Jurnal Ilmiah Bereputasi Global: Langkah Jurnal Penamas Menuju Indeksasi International
  • Humas
  • 10 Desember 2024
  • 79x Dilihat
  • Berita

Strategi Pengembangan Jurnal Ilmiah Bereputasi Global: Langkah Jurnal Penamas Menuju Indeksasi International

Gambar

Balai Litbang Agama Jakarta (BLAJ) melaksanakan kegiatan “Strategi Pengembangan Jurnal Ilmiah Bereputasi Global di Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan SDM Kementerian Agama” di Vasaka Hotel Jakarta, Selasa, 10 Desember 2024. Kegiatan ini untuk menjadikan Jurnal Penamas sebagai jurnal berkualitas bertaraf internasional.

Sebanyak empat puluh peserta yang terdiri dari peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pengelola jurnal di lingkungan Kementerian Agama, serta pegawai Balai Litbang Agama Jakarta hadir dalam kegiatan strategis untuk meningkatkan kualitas publikasi ilmiah. Acara ini menjadi wadah untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam upaya mendorong Jurnal Penamas agar mampu bertransformasi menjadi jurnal berindeks global.

Kepala Balai Litbang Agama Jakarta, Irhason menyampaikan bahwa para pengelola jurnal dapat memberikan coaching mengenai cara meningkatkan kualitas akreditasi jurnal, termasuk tips dan trik untuk mencapai indeksasi internasional seperti scopus di tengah kondisi yang saat ini dihadapi jurnal Penamas dimana tantangan yang dihadapi tidak sederhana. Pasca kepergian peneliti dari Balai Litbang Agama Jakarta, jurnal mulai menerima tulisan dari luar, tetapi redaksi tetap harus menjaga konsistensi kualitas.

“Kebanggaan tersendiri muncul ketika jurnal Penamas berhasil mencapai SINTA 2 saat ini, tetapi situasi ini juga dihadapkan pada kebijakan baru Bappenas yang disampaikan oleh Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan SDM Kementerian Agama RI, Suyitno. Dalam kebijakan tersebut, jurnal di luar SINTA 2 kebawah berisiko dihentikan," ujarnya.

Hadir sebagai Narasumber M. Alie Humaedi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dalam paparannya M. Alie Humaedi menyampaikan kriteria jurnal internasional yang diakui Dikti juga menjadi tantangan tersendiri. Jurnal-jurnal tersebut harus memenuhi kaidah ilmiah, etika akademik, serta memiliki editorial board dan penulis dari berbagai negara. “Untuk mengatasi hal ini, Kementerian Agama disarankan merancang berbagai program, termasuk lokakarya penulisan, kompetisi internasional, serta penerjemahan karya ke dalam bahasa Inggris. Kita juga membutuhkan tulisan berkualitas global, bukan sekadar penulis global," ujar Alie.

Ia menyoroti, fokus jurnal diarahkan pada penguatan substansi karya, penyajian yang menarik, dan penggunaan metodologi yang sesuai dengan standar internasional. Langkah ini diharapkan mampu membawa Jurnal Penamas terindeks scopus. “Selain itu, pencarian penulis dan reviewer global juga membangun jaringan internasional melalui kerja sama dengan universitas dan lembaga di luar negeri. Program pelatihan dan pendampingan kepada penulis lokal juga menjadi prioritas untuk meningkatkan kualitas tulisan yang bersifat multidisipliner dan interdisipliner,” ungkapnya.

Sementara itu, Prof. Nur Hidayah narsumber dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menekankan pentingnya kualitas substansi paper sebagai fondasi utama. Dalam penyusunan paper, ia merekomendasikan struktur yang kuat, mulai dari pendahuluan yang menyoroti gap teoritis dan empiris, tinjauan pustaka yang mencakup debat teoritis dan kontribusi penelitian, hingga metodologi yang jelas, baik kualitatif, kuantitatif, maupun campuran. “Hasil penelitian harus dianalisis secara mendalam dengan pendekatan deskriptif hingga inferensial untuk metode kuantitatif, dan coding selektif hingga inferensial untuk metode kualitatif. Selain itu, generalisasi, abstraksi, dan teorisasi menjadi bagian penting dalam interpretasi hasil,” ujarnya. Ia juga menyoroti kriteria utama dalam seleksi jurnal, seperti keberagaman geografis penulis, isu yang diangkat, serta kualitas substansi dan bahasa tulisan. 

Narasumber lainnya, Priwahyudi, menyatakan bahwa pengelolaan jurnal yang berpotensi internasional memerlukan konsep yang matang. Salah satu idenya adalah pengembangan rumah jurnal, yaitu sebuah platform terpadu yang mampu mengintegrasikan metadata dari berbagai jurnal tanpa mengubah domain asli masing-masin jurnal.

“Banyak artikel yang dihasilkan oleh teknologi kecerdasan buatan (AI), hal ini memunculkan tantangan baru bagi editor jurnal dalam menilai keaslian karya. Oleh  karena itu, perlu dipertimbangkan penggunaan perangkat lunak khusus untuk mendeteksi artikel berbasis AI dan memastikan transparansi serta akurasi publikasi,” ujarnya.

Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif, tidak hanya bagi Balai Litbang Agama Jakarta tetapi juga bagi pengembangan jurnal ilmiah di lingkungan Kementerian Agama secara keseluruhan. Dengan semangat untuk terus berinovasi, Balai Litbang Agama Jakarta berupaya menjadi garda terdepan dalam mempromosikan moderasi beragama melalui publikasi ilmiah yang bereputasi global.