Pengaruh Konten Negatif bagi Siswa Madrasah, Apa Kata BLA Jakarta?
  • BLA Jakarta
  • 12 Juni 2024
  • 68x Dilihat
  • Berita

Pengaruh Konten Negatif bagi Siswa Madrasah, Apa Kata BLA Jakarta?

Jakarta (Balitbang Diklat)---Balai Litbang Agama (BLA) Jakarta menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Tingkat Cakap Digital dan Ekspos Siswa Madrasah Aliyah terhadap Konten Negatif di Media Sosial. Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai upaya untuk memahami tantangan yang dihadapi siswa madrasah dalam konten digital.

Menurut Plt. Kepala BLA Jakarta Haris Burhani perkembangan media sosial dan penggunanya saat ini sudah begitu banyak dan cepat. “Dikaitkan dengan anak usia sekolah, generasi Z secara sosiologis masuk ke dalam digital natives, yang ekosistemnya sudah terdigitalisasi,” ujarnya di Jakarta, Rabu (12/6/2024).

Haris mengungkapkan bahwa perkembangan teknologi dan informasi ini membawa peluang dan tantangan tersendiri. Oleh karen itu, pihaknya akan melakukan riset untuk memetakan siswa Madrasah Aliyah dari sisi penggunaan media sosial.

“Apakah positif atau negatif, dan tingkat keterpaparannya bagaimana, dikontekstualisasikan dengan konten-konten negatif seperti pornografi, cyberbullying, dan judi online,” imbuhnya.

Sementara itu, Kasubdit Kesiswaan Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Kemenag RI Imam Bukhori mengatakan bahwa penanganan konten negatif di media sosial tidak cukup hanya dengan penguatan moderasi beragama saja. Namun, harus ada pelemahan di sisi lain.

“Pelemahan di sisi lain berarti bahwa di luar sana masih ada oknum atau organisasi tertentu yang menyebarkan paham ekstremisme. Oleh karena itu, pengaruhnya harus dilemahkan,” ucapnya.

Gambar

Faktanya, kata Bukhori, menghindari derasnya teknologi informasi dan komunikasi sangat sulit, bahkan jika ditutup akan berpotensi menimbulkan masalah. “Bisa jadi siswa kita tidak dapat mengikuti perkembangan dan tantangan zaman,” sambungnya.

Sebagai alternatif, Bukhori mengusulkan untuk memberikan daya tahan kepada para siswa kita agar bisa menyikapi konten negatif itu.

Kegiatan ini menghadirkan para pakar dari berbagai lembaga, seperti para peneliti BRIN, PBNU, Cyber Kreasi, Kementerian Kominfo, Polda Metro Jaya, dan Direktorat KSKK, Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama.