Desa Adat Citorek, Potret kearifan Lokal di Kaki Gunung Halimun Salak
  • 19 Februari 2020
  • 4160x Dilihat
  • Berita

Desa Adat Citorek, Potret kearifan Lokal di Kaki Gunung Halimun Salak

BLAJ - Di tengah gempuran teknologi dan hal-hal serba modern lainnya, ternyata ada beberapa tempat yang masih mempertahankan tradisi dan adat yang diwarisi oleh nenek moyang secara turun menurun. Salah satunya Desa Citorek Barat  di kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak. Desa yang berada di area Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) ini sampai sekarang masih memegang adat dari leluhur, salah satunya di bidang pertanian.

Secara geografis, Kasepuhan Citorek mencakup lima desa, yaitu Desa Citorek Timur, Desa Citorek Tengah, Desa Citorek Barat, Desa Citorek Sabrang, dan Desa Citorek Kidul. Lima desa itu termasuk ke dalam Kesatuan Wewengkon Citorek.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

foto: Kondisi jalan menuju Desa Citorek Barat

Lokasi  Kasepuhan Citorek cukup terpencil. Perjalanan ke Citorek dari Kabupaten Lebak ditempuh selama 5 jam menggunakan kendaraan umum. Kemudian perjalanan  dari Citorek Timur ke Citorek Barat di tempuh 1 jam dengan sepeda motor.

Pemimpin adat di kasepuhan Citorek digelari Abah. Dalam aktivitas pemerintahan adat sehari-hari dibantu oleh para pejabat adat yang disebut baris kolot. Peran Abah cukup vital dan keberadaanya begitu disegani oleh masyarakat.  Mereka masih menjaga kearifan lokal sebagai sebuah komunitas kahuripan. Warga Desa Citorek hingga kini masih menjadi bagian dari Kesatuan Masyarakat Adat Kasepuhan Banten Kidul.

 

 

 

 

 

 

 

foto: Peneliti BLAJ Nusalamah bersilahturahmi dengan Ketua adat Citorek Barat  Olot Asbaji.

Masyarakat Kasepuhan Banten Kidul mayoritas bekerja pada bidang pertanian. Warga menggunakan strategi tanam serentak dengan melihat tanda-tanda perbintangan. Pengolahannya pun harus dilakukan secara tradisional. Soal kapan mulai semai hingga panen, kepala kasepuhan yang menentukan. 

Proses pertanian juga dibarengi kegiatan keagamaan. Seperti hari pertama Maulud diadakan upacara adat yaitu Yebor. Selain itu ada ketentuan empat hari pantang (tiap hari selasa) selama bulan Maulud tidak boleh melakukan kegiatan  mengambil tanaman, memetik jenis tanaman apapun, dan tidak boleh menggarap sawah. 

 

 

 

 

 

 

 

Foto: Bersama Abah Olot Asbaji, guru madrasah dan pimpinan ponpes Arroudoh Citorek.

Awal Februari lalu peneliti Balai Litbang Agama Jakarta (BLAJ), Nursalamah Siagian berkesempatan mengunjungi Desa Citorek. Kunjungan ini merupakan bagian dari riset BLAJ Bidang Pendidikan 2020  bertema Pendidikan Agama dan Keagamaan pada Masyarakat Khusus.  Fokus riset ini adalah masyarakat adat di Provinsi Jawa Barat dan Banten.  Peneliti Bidang Pendidikan BLAJ melakukan riset awal tiga lokasi di Banten (Kasepuhan Cisungsang, Kasepuhan Guradog dan Kasepuhan Citorek di Kabupaten Lebak Banten). Serta empat lokasi  Jawa Barat (Kasepuhan Cipta Gelar Sukabumi, Masyarakat Adat Kampung Urug Bogor, Masyarakat Adat Kampung Pulo & Dukuh di Garut dan Kampung Adat Cikondang di Bandung). Riset awal dilakukan untuk mengidentifikasi penyelenggaraan pendidikan agama dan keagamaan serta  informasi awal ritual masyarakat adat yang masih dilaksanakan hingga saat ini.  (teks/foto: Nursalamah Siagian)