Cinta dan Keabadian
Jika kamu seorang laki-laki yang punya segalanya—kekuatan, kekuasaan, kebebasan menjelajah ke mana pun tanpa hambatan, keabadian, bahkan mematikan orang, maukah kamu menukar itu semua dengan cinta? Jika masih kurang jelas imbalan pertukaran ini, saya katakan bahwa cinta yang menjadi pertukaran itu tidak menjanjikan apapun. Tidak ada garansi bahwa cinta itu akan berakhir dengan kebahagiaan. Masih mau? Mungkin sebagian besar dari kita tidak mau. Bahkan akan menggoblok-goblokkan laki-laki yang nekat melakukannya.
Tapi itulah yang terjadi pada Seth dalam film City of Angels. Seth adalah seorang (tepatkah pilihan istilah ini?) malaikat yang jatuh cinta pada seorang perempuan, manusia biasa, bukan bidadari. Film fantasi-romansa yang rilis di akhir tahun 90-an ini mengisahkan malaikat yang jatuh cinta kepada seorang dokter perempuan yang hidupnya didedikasikan untuk membantu orang-orang sakit yang melawan takdir kematian.
Si malaikat diperankan Nicolas Cage, sedang lawan mainnya diperankan Meg Ryan. Ah, Meg Ryan di tahun 90-an sangat memesona. Hidung dan bibirnya yang mungil, ditambah dengan rambut blonde yang dipotong curly-shaggy adalah keindahan yang tak terbahasakan. Jika Anda kesulitan mengimajinasiksn kecantikan bidadari, saya sarankan untuk melihat kembali foto-foto Meg Ryan di tahun 90-an. Sempurna!
Film ini mengikuti perjalanan Seth, seorang malaikat yang bertugas mengawasi manusia, terutama yang tengah menghadapi kematian. Melalui kekuatannya, dia membimbing jiwa ke alam baka. Sebagai malaikat, dia hanya bisa mengamati dan mendengar pikiran manusia, tapi tidak memiliki sensasi fisik seperti yang dialami manusia.
Suatu hari ia terpesona dengan Maggie, seorang dokter perempuan ahli bedah jantung yang berdedikasi. Keputusasaan Maggie yang gagal menyelamatkan nyawa pasien di ruang operasinya menumbuhkan perasaan yang mendalam pada diri Seth. Perasaan ini sedemikian dalam hingga Seth mendambakan untuk memiliki pengalaman manusiawi.
Bukan pilihan mudah. Seth dihadapkan pada pilihan antara keabadian dengan kehidupan manusia yang terbatas, yang dipenuhi dengan cinta dan risiko. Setelah melalui pergolakan batin yang luar biasa, Seth memilih untuk melepaskan keabadiannya untuk bersama Maggie. Seth memutuskan untuk menjadi manusia agar bisa terhubung secara manusiawi dengan Maggie, dengan segala risikonya. Melalui pengalaman “jatuh”, akhirnya Seth berubah dari malaikat menjadi manusia.
Melalui proses yang bla bla bla, akhirnya Seth hidup bersama Maggie dalam balutan cinta. Cinta itu mengubah segalanya. Bagi Maggie, hal-hal biasa yang sekian puluh tahun dialaminya dalam rutinitas, tiba-tiba berubah menjadi keindahan luar biasa. Bagi Seth, menjadi manusia yang bisa merasakan jatuh cinta adalah keajaiban yang tiap detiknya hanya bisa dirasakan.
Namun, kebahagian dan keindahan itu sekejap menjadi kesedihan dan air mata. Maggie meninggal karena kecelakaan menabrak truk yang melintas di jalan saat dia mengendarai sepedanya dengan sembrono karena perasaan cinta yang meluap-luap di dadanya. Sungguh, akhir yang sungguh tragis. Seth yang telah melepaskan keabadiannya sebagai malaikat untuk mengejar perasaan cintanya kepada Maggie, akhirnya menghadapi kenyataan bahwa kekasihnya itu kini pergi untuk selamanya. Meninggalkannya sendiri.
Menyesalkah Seth? Tidak! Dia sama sekali tidak menyesali keputusannya. Ketika dia ditanya seorang malaikat, kawan lamanya saat masih menjadi malaikat, apakah dia menyesali keputusannya menjadi manusia, Seth menjawab, “Aku lebih memilih membaui rambutnya meskipun hanya sekali, mencium bibirnya meskipun hanya sekali, menyentuh tangannya meskipun sekali daripada hidup dalam keabadian tapi tanpanya.”
Sebernilai apa sesungguhnya cinta dibanding dengan keabadian hingga malaikat lebih memiliki cinta meskipun hanya merasakannya sedetik dibanding dengan keabadian?
Cinta selalu menjanjikan keabadian. Hidup memiliki nilai karena kita memilih, merasakan, dan bertindak dalam waktu yang terbatas. Keputusan Seth untuk melepaskan keabadian mencerminkan keyakinan ini: ia memilih kehidupan manusia yang otentik—penuh risiko dan penderitaan—daripada keberadaan yang terlepas dan tanpa waktu. Emosi memberikan kedalaman pada eksistensi. Satu pengalaman cinta yang murni dan dalam dapat melampaui keabadian tanpa perasaan. Mencintai dengan sepenuh hati—bahkan mengetahui bahwa itu akan berakhir—adalah tindakan yang paling abadi.
Itulah mengapa, Jalaluddin Rumi, seorang sufi besar mengatakan “Perpisahan hanya terjadi pada mereka yang mencinta dengan mata. Bagi mereka yang mencinta dengan jiwa dan hatinya, perpisahan itu tak pernah ada.”
11 Maret 2020
8 November 2021
21 Mei 2020
3 Februari 2020