Kompetisi SINOVIK,  BLAJ  Andalkan Program Bina Desa Model Kerukunan
  • 26 April 2019
  • 435x Dilihat
  • Berita

Kompetisi SINOVIK, BLAJ Andalkan Program Bina Desa Model Kerukunan

BLAJ - Kemenpan dan RB (Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi) menyelenggarakan Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (SINOVIK). Berbagai lembaga negara dan kementerian ikut berpartisipasi dalam kompetisi ini, termasuk Balai Litbang Agama Jakarta (BLAJ).

Program BLAJ yang diikutsertakan pada kompetisi ini adalah  “Bina Desa Model Kerukunan”. Keikutsertaan BLAJ merupakan inisiasi dari Sekretariat Balitbang dan Sekretariat Jenderal Kementerian Agama Republik Indonesia. Kemudian direspons oleh Kepala Balai Litbang Agama Jakarta.

Menurut Nurudin, Kepala Balai Litbang Agama Jakarta mengatakan program ini sejalan dengan program kelitbangan sebagai penyedia data informasi sekaligus untuk mendesiminasi. “Harapan kami, program ini bisa menjadi model untuk desa-desa lain di Indonesia, sehingga sejalan dengan program pemerintah dalam pengembangan desa,” tuturnya.

Ia menjelaskan, progam Bina Desa Model Kerukunan merupakan lanjutan hasil penelitian BLAJ di Desa Pabuaran, Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor. Tujuan proyek rintisan ini adalah untuk meningkatkan kesadaran warga mengenai kerukunan, dari semula rukun yang pasif menjadi rukun yang aktif. Program ini merupakan proses meningkatkan dan memperkuat kapasitas warga desa dalam menjaga kerukunan, sehingga dapat menjadi desa model atau contoh bagi desa-desa lainnya dalam pengembangan kehidupan masyarakat yang rukun.

Tak itu saja, program ini juga untuk meningkatkan kapasitas warga dalam menjaga kerukunan, tapi  juga bagaimana warga disadarkan untuk berdaya dan mandiri dalam kemajemukan. Berdaya artinya warga memiliki kemampuan mengembangkan potensi mereka untuk bisa mandiri secara ekonomi. Program ini tidak hanya menaikkan tingkat kesadaran kerukunan warga dari pasif menjadi aktif, melainkan juga berupaya meningkatkan kesejahteraan warga secara kolektif.

“Desa Pabuaran memilik banyak aspek yang bisa diangkat. Secara demografi,  desa ini sangat multikultur. Baik dari segi keberagaman agama dan suku, mau pun dari budaya dan kearifan lokal. Mata pencaharian masyarakatnya pun beragam. Keunikan ini yang akan kita dampingi melalui Bina Desa Model Kerukunan.  Potensi ini bisa kembangkan menjadi sumber pendapatan desa. Salah satunya menjadikan Desa Pabuaran menjadi  Desa Wisata Religi,” sambung Nurudin.

Sisi inovatif program ini adalah mendorong terwujudnya desa rukun yang dapat menjadi panutan bagi desa lain dalam hal kerukunan umat beragama. Ada tiga ciri dari desa model kerukunan. Pertama, memiliki kerukunan antarumat beragama yang bersifat aktif, ditandai dengan adanya kerja sama antarpemeluk agama, baik dalam ranah kehidupan sosial, maupun munculnya wadah kerjasama dalam bentuk perkumpulan yang beranggotakan pemeluk berbagai agama. Kedua, memiliki mekanisme penyelesaian masalah secara damai. Ketiga, pemerintah desa berperan aktif dalam memelihara kerukunan umat beragama, tercermin dalam program yang dirancang dan dilaksanakan sebagai bagian dari keseluruhan program pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa. (Teks: Aris W Nuraharjo)