PSIKOLOGI AGAMA

PSIKOLOGI AGAMA
Judul Buku PSIKOLOGI AGAMA
Pengarang Ahmad Saifuddin
Penerbit Prenadamedia Group
Tahun Edisi Pert
Deskripsi

Perilaku beragama kebanyakan dibahas berdasarkan perspektif teologi dan norma agama. Ini penting, bahwa memahami agama tidak bisa dari satu sudut pandang. Ahmad Saifuddin tidak hanya mengurat pada satu agama, juga tidak bermaksud membanding-bandingkan perilaku beragama antar umat beragama, tetapi mengurat latar belakang, faktor, dan dinamika psikologisnya.

Ilmuan memiliki definisi masing-masing, penulis menyimpulkan “Psikologi Agama mempelajari dinamika kejiwaan individu dalam konteksnya sebagai manusia yang menjalankan agama (dalam bentuk keyakinan maupun ritual peribadatan dan kehidupan sosial beragama), serta perkembangan keagamaan disetiap fase kehidupan dan mengkaji pengaruh agama terhadap individu (fungsi mental dan kesehatan jiwa)”. Hlm. 15

Kebermanfaatan psikologi agama tidak bisa lepas dari kehidupan, bisa berupa bahan refleksi, modifikasi perilaku, dan meningkatkan kesehatan mental. Bagi seorang peneliti, dijelaskan tentang metode penelitian psikologi agama dalam berbagai pendekatan, pengumpulan data, dan skala penelitian, walaupun penjelasannya masih singkat.

Kajian pra psikologi agama sudah ada pada masing-masing agama. Kelahirannya pun tidak tercatat secara pasti, dan populer pada akhir abad 19. Arus pemikiran barat seperti William James (Guru Besar Universitas Harvard) masif memberikan kuliahnya di pelbagai universitas dan akhirnya pada waktu tersebut tercetuslah nama "Psikologi Agama".

Identitas Psikologi Agama terbangun, kajian manifestasi jiwa yang mainstream-nya dengan pendekatan objektif, bisa menjadi subjektif-fenomenologis. Data ilmiah didapatkan melalui pengalaman individu; dokumen personal, daily activity, autobiografi - seperti karya William James (1903) The Varieties of Religious Experiences. Hlm. 35

Perkembangan pesat awal abad 20, Pratt (1920) dengan buku The Religious Consciousness, hingga Jung yang melepaskan dirinya sebagai Freudian dengan berbagai buku diantaranya, Modern Man in Search of a Soul (1933) dan Memories, Dreams, Reflections (1963). Hlm. 39

Arus pemikiran barat didominasi oleh gerakan behaviourisme positivistik di Amerika, akhirnya psikologi mendepak perspektif subjektif-fenomenologis, karena dasar kajian gerakan behaviorisme tersebut deteministik dan mekanistik, psikologi dan agama dalam posisi saling merendahkan. Hlm. 40

Era kebangkitan pada pertengahan abad 20, dari Barat merebak ke Timur hingga Indonesia seperti Zakiah Daradjat dengan buku Ilmu Jiwa Agama (1970), penulis lain seperti Jalaluddin Rakhmat, Syamsul Arifin,  Subandi.

Dalam buku ini, Ahmad Saifuddin menjelaskan dinamika para tokoh psikologi terhadap agama dengan klasifikasi, psikologi versus agama dan psikologi pro agama. Hingga bab 3, pembahasan mengenai sejarah dan dinamikanya.

Manusia memiliki keyakinan adanya kekuatan diluar dirinya, baik berwujud agama atau keyakinan terhadap sesuatu yang dianggap maha segalanya. Buku ini mengajak menengok religiositas dan kematangan beragama pembaca. Filsuf, psikolog, tokoh perkembangan (anak, remaja, dan lanjut usia) dipaparkan secara jelas dengan bahasa yang relatif mudah dipahami dan adanya bagan-bagan ditiap akhir pembahasan juga memudahkan pembaca.

Mistisime dalam Agama tidak dapat diterjemahkan secara logika, namun ada fenomena dalam agama besar; Islam dengan tasawufnya, Yahudi dan Nasrani dengan Unio Mystica, Kabbalah dan Tanakh, Hindu dengan Bhagavadghita berisi ajaran Yoga, Buddha dengan Triratna melalui meditasi; mudra, mantra, dharani dan mandala. Mstisisme berkembang disetiap agama berpengaruh pada penganutnya, kondisi ini mempengaruhi pola sikap dan pembentukan kepribadian. Hlm. 127

Dalam buku ini juga mengurat tentang Ilmu Gaib (laku spiritual, kepekaan intuisi dan emosi kejiwaan), Magis hitam-putih, Kebatinan (Ki Ageng Suryomenteram, Ronggowarsito, dan Pangestu), dan Parasikologi yang mengkaji fenomena kejiwaan paranormal dan supranormal.

Produk kearifan lokal adalah salah satu pembentuk dari kepribadian manusia, fenomena mistisisme orientasinya penyucian jiwa, pengalaman batiniah dan spiritual, serta pengendalian nafsu dan perilaku, agar tidak melanggar aturan Tuhan (modifikasi perilaku dan pemaknaan positif dari pengalaman mistis). Namun jika ilmu gaib dan magis berkaitan dengan setan dan melanggar aturan agama, maka akan berpotensi mengakibatkan gangguan mental.

Agama membawa nilai, perintah, larangan, informasi, hingga pedoman hidup. Kemudian tereduksi dan atau terinternalisasi hingga berpengaruh pada pola pikir, persepsi, pola sikap, dan perilaku. Tidak heran jika masing-masing agama memiliki ciri khas tersendiri dalam menjalani hidup. Membaca buku ini seperti menyelami berbagai agama, akan lebih tau bagaimana ritual dari yang aneh hingga familiar, sehingga tidak mudah menghakimi orang lain yang beda agama.

Abnormalitas dalam beragama, dalam agama Islam ada istilah qalbu, nafs, aql. Semuanya bisa menjadi dominan, salah satu yang dominan kemudian muncul sebagai manifestasi perilaku, jika tidak seimbang maka timbul gangguan kepribadian. Secara prinsip agama lain juga demikian, dikatakan normal jika menaati dan mamatuhi ajaran agama, dan dikatakan abnormal negatif jika tidak melanggar perintah.

Implementasi abnormal dilihat dari pelaku radikalisme dan terorisme merupakan abnormalitas psikologis, ada anggapan aktualisasi diri karena subjektif pelaku itu sendiri. Keduanya merupakan gejala dan paham yang ada pada setiap agama, hal ini disebabkan adanya doktrin dan penafsiran teks yang membawa pada interpretasi subjektif dari agama, maka dari itu radikalisme dan terorisme tidak hanya melekat pada satu agama tertentu. Hlm. 185

Praktik aliran klenik, perdukunan dan sihir dianggap abnormalitas psikologis, karena kebanyakan pelakunya beragama namun belum mencapai kematangan dalam beragama dan pola pikir yang singkat tanpa mengakomodasi berbagai kemungkinan akibat yang terjadi. Kecenderungan pelaku klenik adalah memiliki waham kebesaran dan narsistik. Hlm. 202

Nabi dan rasul dalam psikologi agama dikategorikan sebagai abnormalitas yang positif, yakni melebihi kemampuan orang pada umumnya; membawa kebaikan, perbaikan tatanan sosial, dan tidak destruktif. Berjalannya praktik keagamaan, muncul fenomena nabi palsu, diantara penyebabnya (1) kurang puas dengan pengaruh agama saat ini, (2) termarjinalkan sehingga muncul keinginan mendapat pengakuan dan tempat di masyarakat, (3) upaya melegitimasi keinginan-keinginan yang dirasa tidak dapat dipenuhi oleh agama. Hlm. 205

Buku ini memaparkan manfaat dari peribadatan dalam agama-agama, dengan dijelaskan secara terstruktur melalui bagan-bagan. Penulis mengajak merefleksikan kepada pembaca apa hakikat dari agama dan urgensi agama dari individu maupun masyarakat. Pembahasan mengenai kesetaraan gender, musik, lagu, hingga rentang kehidupan diulas melalui pendekatan tokoh dan dalil dimasing-masing agama.

Membaca buku ini penting, agar memperkaya sudut pandang untuk menganalisis permasalahan keagamaan, perkembangan proses keagamaan sehingga memahami kondisi keagamaan individu.

Penulis resensi : Ahmad Mujahid