Islam Jenaka Mbah Nyut; Kisah-Kisah Sesat Sang Wali Kuthuk

Islam Jenaka Mbah Nyut; Kisah-Kisah Sesat Sang Wali Kuthuk
Judul Buku Islam Jenaka Mbah Nyut; Kisah-Kisah Sesat Sang Wali Kuthuk
Pengarang MY Arafat
Penerbit MJS Press
Tahun Cetakan I,
Deskripsi

Narasi Islam hari ini banyak didominasi oleh perilaku keras dan kasar. Mimbar-mimbar ceramah dan tulisan banyak memuat diksi-diksi yang tidak ramah dengan keragaman dan perbedaan. Sebut saja diksi kafir, halal-haram dan surga-neraka jamak kita temui di mana-mana. Belum lagi tindak teroris yang banyak memakan korban jiwa dan merusak sejumlah fasilitas publik. Saya rasa pada titik ini, ucapan Gus Dur beberapa tahun lalu perlu dirumuskan ulang sebagai laku alternatif berislam, bahwa kita membutuhkan Islam yang ramah, bukan Islam marah.

Dalam sejarah Islam, nama Abu Nawas dan Nasrudin Hoja bisa menjadi prototipe Islam yang ramah. Ide-ide cerdasnya dalam menyikapi sebuah masalah kerap membuat geleng-geleng kepala dan mengundang tawa terbahak-bahak. Sehingga tidak ada pihak yang merasa dihakimi dan disalahkan. MY Arafat melalui bukunya “Islam Jenaka Mbah Nyut; Kisah-Kisah Sesat Sang Wali Khutuk” ingin merekonstruksi ulang apa yang telah dilakukan oleh Abu Nawas dan Nasrudin Hoja di masa silam. Bahwa tertawa dalam menyikapi masalah itu tidak salah. Tidak juga harus menghakimi dan mengutuk benar-salah dengan dasar dalil yang tafsirannya sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman.

Buku ini memuat lima puluh cerita dengan ragam topik yang dibicarakan, mulai dari kehidupan sehari-hari, persoalan agama, politik, kebudayaan, sampai merespon problem-problem aktual dengan sudut tawanya. Mbah Nyut didapuk sebagai tokoh sentral dalam setiap cerita. Merujuk pengantar yang ditulis oleh MY Arafat sendiri, Mbah Nyut merupakan penulis novel dan buku sufi berjudul Akulah Debu di Jalan al-Musthafa. Kehidupan Mbah Nyut di laman facebook yang kerap mengundang tawa itu, berbanding terbalik dengan kehidupan nyata yang senyumnya saja bisa dihitung jari (hlm. xvi).

Sejak tajuk ceritanya saja kita sudah dibuat tertawa. Sebut saja kentut, revolusi berak, suntik tetanus, sambel, dan seabrek tajuk-tajuk lainnya yang tidak lazim ditemui di buku-buku lain bisa ditemukan di buku ini. Saya menuduh pemilihan tajuk bukan karena ngawur, tapi lebih kepada daya kreatif si penulisnya sehingga siapa pun yang hendak membaca sudah penasaran dari membaca tajuknya.

Meskipun seperti itu, buku ini tetap memiliki benang merah yang menghubungkan satu cerita ke cerita lainnya. Pertama, cerita-cerita yang diproduksi memuat ideologi Islam ramah. Seperti yang saya katakan di awal, bahwa wajah Islam hari ini didominasi oleh wajah marahnya. Pada titik itu, saya rasa memang perlu untuk memberi alternatif laku keberislaman yang tidak melulu menyalahkan orang lain di luar afiliasinya. Sebab Islam datang untuk mengakomodir seluruh kehidupan manusia sampai akhir zaman, yang baik terus diperbaiki dan yang kurang baik diupayakan untuk baik.

Prototipe kasus ini bisa dilihat sejak cerita pertama. Mbah Nyut yang sedang melaksanakan salat berjamaah di masjid sebagai makmum dengan tidak sengaja kentut. Anak kecil yang berada di kanan-kirinya terus menuding dan mengatakan salat Mbah Nyut batal, tidak boleh diteruskan. Bahkan beberapa jamaah yang mengetahui dan belum memulai salatnya juga melakukan hal serupa. Karena tidak betah, Mbah Nyut pun menjawab tuduhan itu, “batal salat itu kan untuk orang yang wudhu. Lha saya tadi tidak wudhu kok, ya tidak batal” (hlm. 3).

Kedua, cerita-cerita yang dimuat di buku ini lazim ditemui di kehidupan sehari-hari. Tidak ada konten dan teori yang berat, apalagi sampai mengerutkan kening saat membacanya. Bahkan pada tataran tertentu, ceritanya mewakili suara orang awam yang baru atau sedang belajar Agama Islam. Bahwa Agama Islam memudahkan umatnya dalam segala hal di tunjukkan di setiap cerita-cerita di buku ini.

Kasus ini bisa didapati di antaranya di tajuk ‘Menjadi Manusia’. Ceritanya, salah satu santri Mbah Nyut ada yang mengadu soal salat subuh yang jarang tepat waktu. Bahkan ketika menginap di rumahnya, santri tersebut tidak dibangunkan oleh Mbah Nyut saat adzan subuh berkumandang. Mendengar aduan tersebut, Mbah Nyut meresponnya dengan santai. “Tidak mungkin ada manusia yang mengerjakan dua pekerjaan dalam satu waktu. Sama halnya belum pernah ada manusia yang tidur tapi di waktu bersamaan melakukan salat” (hlm. 42).

Dan terakhir, cerita-ceritanya sarat dengan hikmah, meski di satu sisi diksi-diksi berbau porno dan ngawur yang diproduksi penulisnya sendiri bersliweran di setiap cerita. Kalau tidak jeli, cerita di buku ini hanya ditemui hikmah ketidakseriusan. Padahal saya rasa ada pesan tersirat yang bisa membuat orang memiliki pengetahuan alternatif terhadap persoalan yang sedang dihadapinya.

Simak salah satu cerita berikut, suatu ketika Mbah Nyut protes soal cuti. Perempuan diperbolehkan mengambil cuti hamil, mulai mengandung sampai melahirkan yang durasi waktunya sampai dua bulan. Mbah Nyut protes kepada atasanya, bahwa pria juga selayaknya mendapatkan cuti menghamili (hlm. 127). Cerita ini bukan beralamat pada persoalan gender atau yang lain, tapi Mbah Nyut ingin menyindir realitas yang lazim ditemui hari ini bahwa manusia cenderung memiliki sifat iri, bahkan soal cuti yang didapati oleh perempuan hamil.

Cerita-cerita lainnya juga bisa diidentifikasi melalui tiga ciri tersebut. Hanya saja kadar tawa dari setiap cerita berbeda. Ada yang keterlaluan sampai membuat cekikian, bahkan ada cerita membuat yang heran tak berkesudahan sambil berguman, “ada-ada saja”.

Tapi buku ini hadir bukan dengan salah dan khilaf. Buku ini juga tidak menjamin pembacanya tertawa usai khatam membacanya, tidak pula melembutkan hati dan pikiran yang sudah sedari awal berkiblat kepada afiliasi Islam yang kaku dan mahal untuk tersenyum. Buku ini tepat jika menjadi pelampiasan dari rasa jenuh untuk menyikapi problem yang selalu berdasar pada “mana dalilnya?”.

Dengan begitu, menjadi manusia memang tidak melulu harus berfikir dan berorientasi untuk mengubah dunia agar menjadi lebih baik. Kadang juga perlu tertawa dan menertawai diri sendiri(hlm. xv). Dengan begitu, menjalani hidup sebagai muslim bisa menebarkan energi positif melalui tawa yang ramah. Demikian.

Oleh: Ahmad Sugeng Riady, Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Marbot di Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta