Filosofi Syukur
  • BLA Jakarta
  • 28 Februari 2026
  • 58x Dilihat
  • Opini

Filosofi Syukur

Tulisan saya sebelumnya membicarakan tentang keberadaan kita (dari terlahir hingga menjadi ada) sebagai nikmat yang patut disyukuri, bukan kecelakaan yang harus disesali. Kali ini, saya akan membicarakan tentang syukur. Sedikit reflektif-filosofis. Sedikit saja. Kopi saja ada filosofinya (maksudnya: film Filosofi Kopi), masak syukur gak ada filosofinya.

Pernah gak kalian berpikir, mengapa saat kita mencapai kesuksesan—dalam bentuk apapun: tercapai cita-cita, mendapatkan sesuatu yang lama kita inginkan dan usahakan, dll—terus kita diminta untuk berterima kasih sambil memuji-muji pihak lain. Aneh gak perintah ini? Kita sudah berjuang mati-matian, jungkir balik, tiba-tiba pada saat kita mencapai keberhasilan, kita disuruh memuji pihak lain. 

Nah, perintah syukur itu kurang lebih seperti itu. Dalam setiap keberuntungan yang kita dapatkan, kita diperintahkan untuk terima kasih ke Tuhan. Redaksi terima kasihnya pun sudah diformulasikan: الحمد لله (segala pujian hanya kepada Allah). Terasa aneh kan? Kita berjuang untuk mendapatkan sesuatu; berhasil; terus diminta berterima kasih kepada Tuhan; redaksi kalimatnya pun sudah ditetapkan, yaitu pujian kepada Tuhan. Sekalipun boleh saja kita menggunakan redaksi “terima kasih kepadamu, ya Allah” (أشكرك يا الله), tapi ungkapan resmi bersyukur adalah bagian pertama surah al-fatihah: الحمد لله رب العالمين (segala puji bagi Allah, rabb semesta alam).  Baca Juga:

Tapi, justru di sinilah letak rahasianya. Yuk kita renungkan! Berbangga pada diri sendiri tidak apa-apa. Gak dilarang. Memuji diri sendiri juga gak apa-apa. Gak dilarang juga. Yang dilarang adalah sombong. Allah menyatakan bahwa Allah-lah satu-satunya yang berhak menyandang sifat kesombongan. 

Kesuksesan dapat membuat seseorang menjadi arogan, yang ini akan membawa kepada kehancuran diri (self-destruction). Ketika seseorang meraih kesuksesan, dia mungkin akan merasa superior, tak tersentuh. Inilah yang disebut overconfidence bias. Overconfidence bias bisa menjebak orang kepada situasi yang membahayakan: mengabaikan masukan; tidak menghargai orang lain; berhenti belajar; dan sembrono. 

Orang yang mengalami kesuksesan cenderung untuk overestimate terhadap kekuatan dirinya dan underestimate terhadap faktor-faktor eksternal, seperti keberuntungan, timing, dan dukungan pihak lain. Distorsi kognitif ini menciptakan sebuah ilusi kekuasaan tanpa batas. Seseorang tidak lagi melihat kesuksesan bersifat situasional, tapi semata-mata bukti superioritasnya. Pada akhirnya, superiority complex ini akan menghancurkannya.

Padahal, kesuksesan dan kegagalan adalah sua sisi dari satu koin. Di awal perjalanan seseorang, kegagalan mungkin akan memotivasi pertumbuhan dan pembelajaran. Begitu kesuksesan itu menjadi identitas dirinya, kegagalan akan mengancam stabilitas egonya. Untuk menghindari kehancuran ego ini, dia akan denial terhadap kesalahan-kesalahannya dan selalu menyalahkan orang lain. Penolakan atas keterbatasan diri ini membuat seseorang kehilangan kemampuan beradaptasi, sesuatu yang esensial untuk tetap survive dan bergerak maju dalam jangka panjang. 

Syukur (segala puji bagi Allah) untuk sebuah kesuksesan adalah esensial untuk menjaga hati, menstabilkan karakter, dan menjaga keberkahan hidup. Syukur menjaga seseorang dari ilusi total self-sufficiency. Ia mengingatkan seseorang bahwa usaha itu sendiri tidak pernah menjadi satu-satunya garansi keberhasilan.

Success is a test, not just a reward. Banyak orang yang mampu bertahan dalam kemalangan, tapi tak banyak orang yang tidak mabuk kesuksesan. Nabi Muhammad adalah teladan sempurna bagaimana memperlakukan kesuksesan yang didapatkannya. Ketika dia berhasil menaklukkan Mekkah—kemenangan terbesarnya—dia memasuki kota itu dengan kerendahan hati, bukan dengan sikap menepuk dada dengan puja-puji pada dirinya.

Sikap ini tergambar jelas dalam surah An-Nashr. Ketika Nabi memperoleh kemenangan, Nabi Muhammad diperintahkan untuk bertasbih dengan memuji Allah. Nabi diingatkan untuk tidak mabuk kemenangan. Karena, success without gratitude can corrupt the heart.