## 01/09/2014 - 03/09/2014 Seminar Bidang Pendidikan "Dinamika Pesantren Salafiyah dalam sistem pendidikan di Indonesia". ## 04/09/2014 - 06/09/2014 Workshop "Penyusunan Buku Panduan Manajemen Masjid".
  • modules/mod_lv_enhanced_image_slider/images/demo/1.jpg
  • modules/mod_lv_enhanced_image_slider/images/demo/2.jpg
  • modules/mod_lv_enhanced_image_slider/images/demo/3.jpg
  • modules/mod_lv_enhanced_image_slider/images/demo/4.jpg
  • modules/mod_lv_enhanced_image_slider/images/demo/5.jpg
  • modules/mod_lv_enhanced_image_slider/images/demo/6.jpg

Studi Buku Teks Pelajaran PAI SMA Kelas X, XI, XII (Penerbit Erlangga, Grafindo, Platinum dan Yudhistira)

 

A. Latar Belakang

Pendidikan Agama Islam (selanjutnya PAI) adalah salah satu pilar strategis dalam Sistem Pendidikan Nasional. Tentu PAI memiliki peran yang penting dalam membentuk karakter bangsa yang religius dan toleran. Sehingga prosesnya pun perlu diperhatikan kualitasnya. Agar tujuan yang ingin dicapai dari tujuan pendidikan agama dapat tercapai.

Oleh karena itu, di samping guru PAI yang harus membantu siswa untuk membangun pengetahuannya, diperlukan sarana belajar yang efektif. Salah satu sarana yang paling penting sebagai sumber belajar adalah  penyediaan buku pelajaran sebagai rujukan yang baik dan benar bagi siswa/peserta didik.[1] Buku ini sangat penting karena buku teks pelajaran merupakan salah satu sarana yang signifikan dalam menunjang proses kegiatan pembelajaran.

Dari hasil survey awal, ditemukan buku PAI yang masih memiliki kekurangan baik dalam masalah teks redaksionalnya maupun jika ditinjau dari segi kesesuaian buku dengan pendekatan belajar aktif. Dari segi teks misalnya, ditemukan ketidakakuratan dalam penulisan kalimat, atau kelemahan dalam penggunaan rujukan yang kurang otoritatif sebagaimana disarankan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Sedangkan dari segi kesesuaian atau keoptimalan buku dengan konteks pendekatan belajar aktif misalnya buku PAI yang ada dan ditemukan, lebih banyak mengedepankan aspek kognitif atau pengetahuanya daripada penghayatan dan praktik, sedangkan menurut pendekatan belajar aktif, pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sepanjang hayat, dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik.

B. Pendekatan dalam Analisis Buku

Pendekatan dalam analisis yang digunakan juga dua, yang pertama menggunakan “pendekatan teks” dan kedua menggunakan “pendekatan konteks.” Pendekatan teks yang dimaksud di sini adalah textual criticism (kritik teks). Untuk melakukan hal itu, tentu saja diperlukan alat (instrumen). Studi ini menggunakan instrumen penilaian buku teks pelajaran sebagaimana yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dengan beberapa penambahan dan pengurangan.

Adapun pendekatan konteks yang dimaksud di sini adalah terutama konteks tujuan (ends) dari tuturan atau teks dan peserta tutur/pembaca teks (participant). Sebagaimana dikemukakan di atas, tujuan buku teks pelajaran adalah sebagai media belajar yang mampu membudayakan dan memberdayakan peserta didik (belajar aktif). Oleh karena itu sebuah buku sebagai teks, seharusnya mempertimbangkan selalu konteks tujuan dan peserta tutur tersebut.

C. Kesimpulan

Beberapa temuan-temuan hasil studi terhadap buku-buku PAI SMA yang diterbitkan oleh Penerbit Erlangga, Grafindo, Platinum, dan Yudhistira menghasilkan tiga kesimpulan. Tiga kesimpulan ini tentu saja diupayakan menjawab tiga pertanyaan dalam studi ini; (1) Apakah buku-buku teks PAI kelas X – XII SMA yang diterbitkan oleh Penerbit Erlangga, Grafindo, Platinum Yudhistira sudah baik dan benar secara teks redaksional dan substansi materinya?; (2) Sudah sesuaikan dengan pendekatan belajar aktif?; (3) Dan apakah materi-materi yang disajikan sudah kontekstual? Berikut adalah kesimpulannya.

  • Buku-buku teks PAI kelas X – XII SMA yang diterbitkan oleh Penerbit Erlangga, Grafindo, Platinum, Yudhistira belumlah baik dari segi tekstualnya; masih terdapat kekurangan-kekurangan dalam hal pemilihan kata dan beberapa kesalahan-kesalahan dalam penulisan ayat al-Qur’an, terutama pada penerbit Erlangga; belum menggunakan rujukan-rujukan yang otoritatif, terutama untuk rujukan-rujukan tafsir, hadits dan fiqh; dalam penyajiannya pun masih banyak yang belum menyertakan glosarium dan indeks;
  • Buku-buku teks PAI kelas X – XII SMA yang diterbitkan oleh Penerbit Erlangga, Grafindo, Platinum, Yudhistira belum semuanya mengunakan sudut pandang yang kuat mengenai suatu pembelajaran, yakni pemelajaran aktif, sehingga materi-materi yang disajikan masih terkesan mengedepankan aspek kognitif, dan sedikit aspek afektif dan psikomotorik. Padahal pendidikan agama bukan sekadar pembelajaran pengetahuan, tetapi penanaman nilai-nilai.
  • Memang   buku-buku teks PAI kelas X – XII SMA yang diterbitkan oleh Penerbit Erlangga, Grafindo, Platinum, Yudhistira sudah menyajikan materi-materi yang relevan sebagaimana yang disarankan oleh BSNP, seperti demokrasi dan anti diskriminasi, solidaritas sosial, lingkungan hidup, toleransi, kerukunan dan persatuan. Namun, tidak memberikan penjelasan dari isu-isu tersebut lebih dalam atau panduan dalam bentuk refleksi lebih dalam terhadap isu-isu tersebut. Sehingga belumlah kontekstual dan cenderung normatif. Mungkin inilah yang menyebabkan gagalnya PAI dalam membentuk karakter siswa yang religious, damai, dan toleran, karena materi yang diterima sangat terasa normatif dan kognitif, kurang menyentuh aspek afektif dan psikomotorik akibat tingkat reflektif yang dangkal. Padahal, dari segi SK dan KD, isu seputar kerukunan dan HAM yang sangat menjadi fokus pembangunan agama pada Kementerian Agama sudah mencukupi.

D. ReKomendasi

Jika ingin mengembangkan buku teks pelajaran PAI (SMA) yang menarik dan mampu merangsang untuk membangun pemahaman, refleksi dan praktik beragama yang sesuai dengan jati diri bangsa yang tertuang dalam landasan filosofis pembangunan bidang agama oleh Kementerian Agama, yakni diantara yang penting dari landasan filosofis tersebut adalah agama sebagai sumber nilai spiritual, moral dan etik bagi kehidupan berbangsa dan bernegara; penghormatan dan perlindungan atas hak dan kebebasan beragama sebagai bagian dari hak asasi warga Negara; kerukunan umat beragama; dan pengembangan dan jati diri bangsa. Maka, buku tersebut haruslah; (1) berkualitas dari sisi teksnya terlebih dahulu (segala hal yang berkaitan dengan aspek teks baik segi redaksinya maupun muatan materinya); (2) setiap buku teks pelajaran PAI yang disusun haruslah mempunyai sudut pandang pembalajaran aktif; (3) dan juga memuat isu-isu yang relevan dan kontekstual dalam konteks pembangunan bidang agama (misal: kerukunan, demokrasi, HAM, dan nasionalisme). Oleh karena itu rekomendasi yang dapat diajukan kepada unit terkait (Misal: Direktorat PAIS Kemenag) adalah sebagai berikut:

  • Selain dievaluasi oleh Kementerian Pendidikan Nasional dan Kebudayaan, Kementerian Agama juga harus mempunyai andil dalam hal evaluasi, terutama mengenai kesahihan penulisan dan pengutipan ayat al-Qur’an dan hadits dalam buku teks pelajaran PAI. Hal ini adalah bagian dari sasaran strategis dalam Rencana Strategis Kementerian Agama 2010 – 2014, yakni meningkatkan mutu pendidikan agama di sekolah, yang salah satunya melalui peningkatan mutu media belajar, dalam hal ini adalah buku.
  • Perlu ada upaya menghubungkan visi-misi pembangunan agama oleh Kementerian Agama dengan visi-misi pembangunan pendidikan oleh Kementerian Pendidikan Nasional dan Kebudayaan dalam konteks penyusunan buku teks pelajaran PAI. Sehingga cita-cita pembangunan bidang agama dapat terwujud melalui wadah sistem pendidikan nasional. Mungkin ada baiknya dibuat suatu rencana strategis pengembangan buku-buku teks pelajaran PAI berdasarkan rencana strategis pembangunan bidang agama dan pendidikan, yang pada akhirnya nanti materi-materi yang diajarkan akan selalu relevan dan kontekstual karena selalu didasarkan pada rencana strategis tersebut.

Dalam penilaian buku teks pelajaran PAI harus selalu mempertimbangkan pembelajaran yang terfokus pada keaktifan peserta didik/siswa di semua aspeknya (baik al-Qur’an, aqidah, akhlak, fiqh, dan sejarah) dan menjadi ruh di semua penyajian materi pelajarannya.

 


[1] Lihat Peraturan Menteri Agama No. 16 Tahun 2010 tentang Peraturan Menteri Agama tentang Pengelolaan Pendidikan Agama pada Sekolah, Pasal 24 Bab VII Sarana dan Prasarana.

scroll back to top